Tren Kilat 2024 Kilas Balik Pasar Properti Rumah Tapak dan Proyeksi Masa Depan yang Menggiurkan!

Tren Kilat 2024 Kilas Balik Pasar Properti Rumah Tapak dan Proyeksi Masa Depan yang Menggiurkan!

Pasar rumah tapak pada tahun 2024 diprediksi akan terus mengalami pertumbuhan yang signifikan, dipacu oleh berbagai faktor krusial yang menjadi pilar utama dalam perkembangan industri properti. Menurut perusahaan konsultan properti terkemuka, Cushman and Wakefield Indonesia, proyeksi pertumbuhan sekitar 2,8 persen secara tahunan akan didorong oleh serangkaian faktor penting yang mempengaruhi permintaan dan penawaran di pasar perumahan tapak.

Salah satu faktor utama yang diperkirakan akan terus mendorong pertumbuhan pasar perumahan tapak sepanjang tahun 2024 adalah insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Direktur Konsultasi Strategis Cushman & Wakefield, Arief Rahardjo, menegaskan bahwa insentif ini diantisipasi akan menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan permintaan rumah tapak sepanjang tahun mendatang. Selain itu, pertumbuhan pasokan yang relatif stabil, mencapai sekitar 400.000 unit dengan pertumbuhan sekitar 2,6 persen secara tahunan, juga akan turut memengaruhi dinamika pasar properti.

Faktor lain yang memberikan pengaruh yang signifikan adalah kenaikan harga properti yang terkait dengan inflasi, yang secara langsung mempengaruhi harga bahan bangunan. Selain itu, perkembangan infrastruktur di Jabodetabek, seperti MRT, LRT, dan peningkatan akses jalan tol, juga berperan dalam meningkatkan harga tanah serta harga jual rumah secara keseluruhan di tahun 2024. Berdasarkan data dari Cushman & Wakefield, kenaikan harga tanah di Jabodetabek pada tahun 2023 hampir mencapai Rp12,5 juta per meter persegi, yang diperkirakan akan terus meningkat menjadi sekitar Rp13 juta per meter persegi pada tahun 2024.

Arief juga menyoroti pentingnya kondisi ekonomi makro yang mengalami perbaikan serta sentimen politik yang positif dalam memengaruhi kenaikan harga perumahan tapak. Prediksi ini juga dilandaskan pada kebijakan baru terkait kemudahan pembelian properti bagi warga negara asing (WNA) di Indonesia. Meskipun tidak memiliki dampak yang signifikan, kebijakan ini diharapkan dapat menjadi salah satu pendorong permintaan yang berkelanjutan.

Dalam konteks segmentasi perumahan, pasar tapak kelas menengah dan menengah atas tetap menjadi fokus utama, dengan pertumbuhan yang terus meningkat. Pengembang properti mulai meluaskan portofolio mereka dengan memperkenalkan perumahan yang memiliki tipe yang lebih besar dan harga di atas Rp1 miliar.

Namun, untuk mempertahankan daya saingnya, pengembang juga harus mempertimbangkan strategi seperti penerapan suku bunga KPR self-subsidi dan keringanan down payment untuk menarik minat pembeli. Pemerintah sendiri telah memberikan insentif bagi pembelian rumah tapak baru dengan nilai tertentu, termasuk pembebasan PPN hingga diskon signifikan untuk rumah yang sudah jadi.

Dengan proyeksi yang ada, outlook pasar properti di tahun 2024 tetap positif. Meskipun sejumlah insentif hanya berlaku untuk rumah yang sudah jadi, tetapi aktivitas pengembangan properti diperkirakan akan tetap tinggi karena adanya permintaan yang terus berlanjut. Dengan demikian, potensi pertumbuhan pasar rumah tapak tetap diharapkan akan terus meningkat sepanjang tahun mendatang.